Bobrok Pelayanan Kesehatan Majene: HIPERMAKES Geruduk Kantor Bupati, Bongkar Dugaan Skandal Masker Bekas dan Alat Medis ‘Reuse’

MAJENE — Gelombang amarah publik terhadap karut-marut fasilitas kesehatan di Kabupaten Majene akhirnya pecah. Himpunan Mahasiswa Kesehatan (Hipermarkes) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Bupati Kabupaten Majene. Massa mengecam keras buruknya tata kelola pelayanan kesehatan yang dinilai sudah mencapai titik nadir.

​Ketegangan memuncak saat massa membakar ban bekas di tengah jalan sebagai simbol matinya hati nurani pelayan publik. Sebuah spanduk raksasa bertuliskan “#Krisis Kepemimpinan Copot Kapus Sendana 1” dibentangkan, menjadi mosi tidak percaya langsung terhadap kepemimpinan di Puskesmas Sendana 1.

10 Tuntutan Garis Keras: Dari Korup hingga Malapraktik Etik

​Dalam orasinya yang berapi-api, koordinator lapangan menelanjangi berbagai borok manajerial yang selama ini diduga ditutupi. Sebanyak 10 tuntutan utama dibacakan, membongkar isu-isu krusial yang mengancam nyawa pasien dan kesejahteraan tenaga medis (nakes).

​Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan tajam meliputi:

  • Dugaan Korupsi Anggaran: Mendesak Kejaksaan Negeri Majene mengaudit investigatif dana kapitasi dan non-kapitasi yang pengelolaannya dinilai gelap dan tidak transparan.
  • Skandal Alat Medis Reuse: Menuntut investigasi mendalam atas dugaan mengerikan terkait penggunaan kembali alat medis sekali pakai (reuse), termasuk rumor pemakaian masker bekas yang sangat membahayakan keselamatan pasien.
  • Krisis Obat & Hak Nakes: Mengutuk kelangkaan obat-obatan kronis di puskesmas serta menuntut kejelasan insentif para nakes yang hak-hak finansialnya sengaja ditunda.
  • Desakan Copot Jabatan: Meminta Kepala Puskesmas Sendana 1 segera didepak dari jabatannya jika terbukti gagal dan melakukan pembiaran atas pelanggaran fatal ini.

Pembelaan Diri Dinkes: Bantahan Instan di Tengah Tuduhan Krusial

​Menghadapi tekanan massa, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Majene, Hj. Nur Ekawati, S.Si, Apt., turun langsung menemui demonstran. Namun, alih-alih memberikan sanksi tegas, pihak Dinkes terkesan langsung pasang badan dan melontarkan pembelaan yang dinilai terlalu dini.

​Nur Ekawati mengeklaim bahwa pihaknya bersama Inspektorat Daerah (Irtal) telah turun ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan internal. Nyatanya, hasil investigasi kilat tersebut langsung menyimpulkan bahwa tidak ada pelanggaran.

​”Berdasarkan hasil pemantauan dan wawancara langsung yang telah kami lakukan bersama Inspektorat di lapangan, sejauh ini kami tidak menemukan adanya pelanggaran seperti isu-isu negatif yang beredar,” dalih Nur Ekawati di hadapan massa, sebuah pernyataan yang memicu skeptisisme publik terkait objektivitas pemeriksaan tersebut.

Pihak Dinkes juga menepis isu miring mengenai intimidasi nakes dan pemecatan sepihak dua dokter kontrak. Menurut versinya, kondisi internal Puskesmas Sendana 1 masih kondusif dan kedua dokter tersebut justru meminta perpanjangan kontrak.

Dinkes Tantang Mahasiswa: Janji Sanksi Jika Terbukti, Publik Menagih Bukti

​Terkait rumor paling sensitif mengenai penggunaan masker bekas, pihak Dinkes tidak menampik bahwa tindakan tersebut adalah pelanggaran kode etik profesi yang sangat fatal dan mencederai nurani kemanusiaan. Dinkes berjanji akan berdiri di garda terdepan untuk menjatuhkan sanksi berat jika hal itu terbukti secara hukum.

​Sebagai langkah diplomatis untuk meredam amarah demonstran, Sekretaris Dinas menantang balik aliansi mahasiswa untuk melakukan cross-check data bersama dan melanjutkan konflik ini ke ruang audiensi resmi.

​Masyarakat kini menunggu, apakah pintu audiensi transparan yang dibuka Dinkes Majene benar-benar akan membongkar kebenaran, atau sekadar menjadi tameng birokrasi untuk meredam isu miring di Puskesmas Sendana 1 yang telanjur mencoreng wajah dunia kesehatan daerah. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *