Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran resmi mengumumkan penerimaan kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Amerika Serikat pada Rabu, 8 April 2026. Keputusan ini diambil hanya beberapa jam sebelum tenggat waktu (deadline) yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump untuk meluncurkan serangan skala besar terhadap infrastruktur energi dan sipil Iran.
Poin-Poin Utama Kesepakatan
Melalui mediasi intensif yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, kedua belah pihak menyetujui beberapa poin krusial untuk mencegah eskalasi perang yang lebih luas:
- Jeda Militer: AS menangguhkan rencana serangan udara terhadap jembatan dan pembangkit listrik di Iran selama 14 hari ke depan.
- Pembukaan Selat Hormuz: Sebagai imbalan, Iran setuju untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz di bawah koordinasi angkatan bersenjata Iran.
- Negosiasi di Islamabad: Delegasi dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, mulai Jumat (10 April) untuk membahas perdamaian permanen.
- Proposal 10 Poin: Iran mengajukan syarat yang mencakup pencabutan sanksi ekonomi, pengakuan hak pengayaan uranium, serta ganti rugi atas kerusakan akibat serangan sebelumnya.
Ketegangan memuncak setelah serangan mendadak koalisi AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan tewasnya sejumlah pemimpin tertinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Hal ini memicu blokade Selat Hormuz oleh Iran yang menyebabkan harga minyak dunia melonjak drastis dan mengancam stabilitas ekonomi global.
Dalam unggahan media sosialnya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa ia memutuskan untuk menunda kampanye pengeboman setelah berbicara dengan pejabat tinggi Pakistan.
”Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran dan meyakini ini adalah dasar yang bisa dikerjakan untuk bernegosiasi,” ujar seorang pejabat Gedung Putih.
Di sisi lain, pihak Teheran menegaskan bahwa meskipun mereka menerima gencatan senjata, militer Iran tetap dalam status “siaga tempur” (ready for war) jika AS melanggar komitmennya.
Gencatan senjata ini dipandang sebagai “napas lega” bagi pasar energi dunia. Namun, para analis memperingatkan bahwa masa dua minggu ini sangat krusial. Jika negosiasi di Islamabad gagal mencapai kesepakatan terkait kehadiran pasukan AS di kawasan dan status nuklir Iran, risiko perang total tetap membayangi Timur Tengah.(*)






