MAMASA,TERASSULBAR.ID – Sosok Jamaluddin, yang akrab disapa Ustadz Jamal, lahir di kampung kecil Battallopi, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, pada 31 Desember 1979. Kini, ia dikenal luas sebagai Penyuluh Agama Islam di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Mamasa yang konsisten membawa semangat perubahan melalui dakwah yang inklusif dan memberdayakan.
Dengan visi “Menjadi Penyuluh Agama Islam yang Inspiratif dan Solutif Menuju Masyarakat Religius, Toleran, dan Mandiri”, serta moto “Berdakwah bukan hanya tugas, tapi panggilan cinta”, Ustadz Jamal menjadikan penyuluhan agama sebagai ladang pengabdian yang menyentuh banyak aspek kehidupan umat.
Tak hanya aktif dalam organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, dengan pendekatan Islam moderat dan toleran, Ustadz Jamal juga menjadi motor penggerak dalam pemberdayaan ekonomi umat. Salah satu fokusnya adalah mengoptimalkan pengelolaan zakat melalui kolaborasi dengan BAZNAS Kabupaten Mamasa. Di sana, ia aktif membina para amil, mengedukasi ASN Muslim, serta masyarakat umum tentang pentingnya zakat sebagai sarana perubahan sosial.
Kiprahnya meluas hingga ke berbagai lini dakwah: membina majelis taklim, mengajar di TPA, membimbing warga binaan di Lapas Kelas III Mamasa, serta menjadi pembina Forum Komunikasi Muballigh. Namun, perhatian khususnya tertuju pada keluarga dhuafa.
Sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Ekonomi IPARI Kabupaten Mamasa, ia menggagas Program Pemberdayaan Ekonomi Umat yang telah mengubah nasib sejumlah warga. Salah satu kisah sukses adalah Pak Bohari, warga Rambusaratu, yang semula bekerja sebagai tukang ojek. Melalui pendampingan langsung dari Ustadz Jamal—dari penyediaan pompa air, alat semprot, hingga bibit tanaman—keluarga Pak Bohari kini mandiri sebagai petani sayur dengan penghasilan tetap.
“Alhamdulillah, saya bisa panen setiap hari dan sudah punya langganan di pasar,” ungkap Bohari haru.
Atas dedikasi dan inovasinya, Ustadz Jamal terpilih sebagai peserta Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2025.
Kepala Kemenag Mamasa, H. Ramli L., menyebutnya sebagai sosok teladan yang patut dicontoh.
Sementara Ketua IPARI Mamasa, Ustadz Basri, menyampaikan apresiasi atas kiprah dakwahnya.
“Dakwah beliau bukan sekadar ceramah yang penuh retorika, tapi tindakan nyata,” ujar Ustadz Basri.
Misi Peradaban yang Memanusiakan
Bagi Ustadz Jamal, penyuluhan agama bukan sekadar rutinitas, tetapi misi peradaban—menebar nilai-nilai Islam yang ramah, damai, dan adil, sekaligus membebaskan umat dari kemiskinan spiritual dan ekonomi.
“Semoga ini memotivasi penyuluh lain untuk terus berinovasi,” tandasnya.
Dukungan dari Kementerian Agama, masyarakat Mamasa, hingga seantero Sulawesi Barat, menjadi energi tambahan bagi Ustadz Jamal untuk terus melangkah, membawa semangat dakwah yang menyentuh, membumi, dan mengubah.(*)







