Passayang-Sayang Galitik Hidupkan Suasana Tempo Dulu di Mangge, Majene

MAJENE ,TERASSULBAR.ID – Alunan musik khas Mandar dari grup Passayang-sayang “Galitik” berhasil membawa masyarakat Lingkungan Mangge, Kecamatan Banggae, larut dalam nostalgia dan suasana penuh cinta, Senin malam (19/5). Dengan irama yang lembut dan menyentuh, pertunjukan ini menjadi daya tarik utama dalam resepsi pernikahan yang digelar oleh Jasman, warga setempat sekaligus pemilik DZ Musik.

Grup Galitik yang terdiri dari Alwi (gitar melodi sekaligus vokalis), Purnama (vokalis perempuan), Aswan (bass), dan Andri (gitar rytem), tampil memukau dengan balutan busana adat sederhana: baju putih, celana hitam, dan songkok khas Mandar. Mereka diiringi oleh peralatan musik dari DZ Musik pimpinan Jasman.

Salah satu momen paling berkesan adalah ketika para vokalis menyanyikan lagu-lagu passayang-sayang sembari menyebut nama-nama warga yang dititipkan oleh tuan rumah. Ungkapan tersebut disampaikan dalam bentuk sindiran halus penuh cinta dan rasa sayang, membuat penonton tersenyum hingga terharu.

Menurut Jasman, kehadiran passayang-sayang di acara pernikahan anaknya bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk upaya pelestarian budaya Mandar yang kaya akan nilai-nilai kasih sayang dan kebersamaan.

“Sebagai pecinta musik dan pemilik sound system, kami bersyukur bisa menghadirkan Galitik dalam acara pernikahan anak kami. Malam sebelumnya kami juga menghadirkan artis Mandar lainnya,” ujar Jasman, Selasa (20/5/2025).

Kekayaan Budaya Musik Mandar

Passayang-sayang atau Sayang-sayang merupakan bentuk seni tradisional masyarakat Mandar di Sulawesi Barat. Pertunjukan ini biasanya dibawakan dalam berbagai acara adat seperti pernikahan, khitanan, kenduri, dan lainnya.

Dalam pertunjukannya, passayang-sayang dilantunkan dengan iringan gitar, terdiri dari gitar melodi, bass, dan rytem. Formasi pemain bisa bervariasi, umumnya terdiri dari minimal empat orang: dua pemusik dan dua penyanyi (pria dan wanita) yang saling berbalas syair. Irama yang dimainkan meliputi padang pasir, kemayoran, tallu-tallu, dan karambangan.

Tak sekadar hiburan, syair passayang-sayang sarat akan nilai moral, nasihat keagamaan, serta pesan kehidupan yang disampaikan dengan bahasa puitis. Di dalamnya terdapat anjuran untuk hidup penuh kasih, menjaga kehormatan, dan meningkatkan ketakwaan.

Pertunjukan passayang-sayang bukan hanya mempertontonkan keindahan musik dan vokal, tetapi juga memperkuat ikatan budaya dan memperkenalkan kembali warisan leluhur Mandar kepada generasi muda.(*)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *