MALUNDA-TERASSULBAR.ID— Tantangan bagi para siswa yang tinggal di pelosok saat berangkat sekolah adalah kondisi jalan yang terjal, licin, dan berbatu. Terlebih lagi saat hujan deras, jalanan menjadi sangat berbahaya. Kondisi ini membuat mereka harus berpikir matang-matang sebelum memutuskan untuk pergi ke sekolah.
Tapi, berbeda yang dilakukan Kepala Satuan Pendidikan SMPN 7 Satap Malunda, Ida Rosidah. Ia mencari ide, bagaimana keluhan dari siswanya bisa teratasi. Pasalnya, sebagian siswanya jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh. Mereka tinggal di gunung. Jalanan terjal dan licin jika hujan turun. Jaraknya pun, puluhan kilometer.
Terbesit dalam pikirannya, Ida Rosidah memilih menjalin komunikasi dengan Pemerintah Desa Bambangan, Saifuddin. Dari komunikasi yang aktif dibangun, akhirnya membuahkan hasil. Disepakati, Pemerintah Desa Bambangan menyediakan 2 titik asrama putri. Terletak, di Dusun Tabolo dan Dusun Bambangan.
Ida Rosidah menjelaskan, bahwa asrama siswa adalah rumah sementara bagi siswa yang sedang belajar di sekolah. Asrama diperuntukkan bagi siswa yang tempat tinggalnya jauh dari sekolah dan medan yang mereka lalui, juga sangat rumit. Jalan yang terjal dan berbatu serta licin.
“Ini semua menyebabkan siswa tidak memungkinkan untuk hadir di sekolah setiap hari. Sehingga saya sebagai penanggung jawab di sekolah bersama dengan dewan guru mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi oleh siswa,” tutur Ida Rosidah, Selasa 2 September 2025.
Sehingga, lanjut Ida, ia menjalin komunikasi dan kerjasama dengan pemerintah desa Bambangan. Katanya, Pemerintah desa bersedia mengakomodir keluhannya dengan memfasilitasi menyediakan Asrama siswa. Hingga tahun kedua asrama ini berjalan, umumnya siswa yang menempati asrama berasal dari dusun-dusun yang ada di Desa Bambangan. Seperti, Dusun Bunga, Dusun Batu Susun, Dusun Rattepunaga, dan Dusun Tamaindung.

“Untuk sementara asrama yang ada hanya untuk Putri karena mereka lebih rentan terhadap keselamatan dalam perjalanan,” ucapnya.
Dengan adanya asrama ini, para siswa diharapkan bisa fokus dalam belajar. Karena menurutnya, tinggal di asrama bukan suatu perkara mudah. Hal ini disebabkan oleh beragam karakter dari siswa yang tinggal di asrama. Asrama bukan hanya sekadar tempat tidur.
“Ia adalah tempat hidup. Tempat bertumbuh. Di dalamnya, siswa belajar hidup bersama, belajar tanggung jawab, disiplin, hingga empati. Karena itu, manajemen asrama tidak boleh dianggap enteng. Ia bukan pelengkap sekolah, tapi sebagai salah satu wadah pendidikan karakter,” katanya.

Menurutnya, asrama memiliki peran strategis dalam membentuk siswa secara utuh dan membentuk kemandirian. Anak belajar mengatur waktu, merapikan kamar, menjaga kebersihan pribadi, dan menyelesaikan masalah kecil tanpa bantuan orang tua. Selain itu asrama juga mampu Mengembangkan Disiplin dan Tanggung Jawab siswa, melaksanakan rutinitas harian seperti bangun pagi, piket, sholat, dan belajar malam.
“Serta asrama juga mampu menumbuhkan kepekaan sosial hidup bersama, melatih siswa untuk peduli pada teman, belajar berbagi, dan menyelesaikan konflik dengan bijak,” pungkas Ida Rosidah.(*)






