MAJENE – Museum Mandar Majene resmi melakukan terobosan strategis dalam pelestarian sejarah melalui peluncuran serangkaian publikasi media cetak dan elektronik. Agenda yang berlangsung di Aula Museum Mandar ini menjadi langkah nyata dalam mentransformasi museum menjadi pusat edukasi yang adaptif dan inklusif bagi masyarakat luas.
Langkah ini diambil guna memperluas jangkauan informasi sejarah serta memperkokoh posisi Museum Mandar sebagai “benteng” warisan budaya, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Transformasi Museum di Era Digital
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Majene, Drs. H. Ahmad Jamaan, M.Si, yang membuka secara resmi acara tersebut, menekankan bahwa museum harus berevolusi. Menurutnya, museum kini bukan sekadar tempat penyimpanan artefak bisu, melainkan sarana pendidikan yang hidup.
“Kita perlu menjadikan sejarah dan budaya Mandar lebih dekat dengan semua kalangan. Budaya ini adalah identitas kolektif, bukan hanya milik segelintir orang. Publikasi ini adalah jembatannya,” tegas Ahmad Jamaan dalam sambutannya.
Strategi Penyebaran Informasi
Dalam sesi pemaparan materi, Sekretaris Dinas, Muhammad Afiat Mulwan, S.T., M.T, menguraikan peta jalan digitalisasi dan publikasi konten museum. Strategi ini mencakup pembuatan:
* Buku Panduan Komprehensif: Referensi mendalam mengenai koleksi museum.
* Brosur Edukatif: Informasi ringkas yang menarik bagi wisatawan.
* Platform Digital: Optimalisasi konten daring agar nilai-nilai budaya Mandar dapat diakses oleh generasi muda secara global.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Museum Mandar Majene, Suzanna, S.Sos, menyatakan komitmennya untuk memastikan materi publikasi ini memberikan dampak nyata. Ia berharap peningkatan literasi ini dapat memicu keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Menuju Pusat Pendidikan Inklusif
Acara yang dipandu oleh MC Nisya Auliyah Aco dan moderator Muhammad Irsan, M.M ini diakhiri dengan optimisme tinggi.
Transformasi melalui publikasi multimedia ini diharapkan menjadi tonggak awal bagi Museum Mandar Majene untuk tetap relevan di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah unggulan di Sulawesi Barat.(*)






