Warga Majene ‘Gigit Jari’, Piala Dunia 2026 di TVRI Jadi Isapan Jempol Akibat Kendala Sinyal

MAJENE – Pergelaran akbar Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi pesta hiburan bagi seluruh rakyat Indonesia, justru menyisakan kekecewaan mendalam bagi warga Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, khususnya di wilayah Mangge.

​Sebagai pemegang hak siar (official broadcaster) resmi, TVRI Nasional dan TVRI Sport dinilai gagal menjangkau masyarakat di daerah ini akibat tidak adanya infrastruktur pemancar atau tower transmisi TVRI di wilayah tersebut.

​Kehilangan Atmosfer Sepak Bola: “Piala Dunia Kali Ini Mati Rasa”

​Kekecewaan ini dirasakan langsung oleh masyarakat yang terbiasa menikmati euforia sepak bola bersama-sama. Ardi, salah seorang warga Mangge, mengungkapkan betapa berbedanya atmosfer Piala Dunia tahun ini dibanding periode-periode sebelumnya.

​”Piala Dunia tahun ini seperti mati rasa. Tidak ada tempat untuk kami menggelar nonton bareng (nobar). Sangat berbeda dengan empat tahun lalu saat hak siarnya dipegang oleh TV swasta, di mana sinyalnya jauh lebih mudah diakses oleh masyarakat daerah,” tukas Ardi.

Senada dengan Ardi, warga lainnya bernama Askan, mengaku telah melakukan berbagai upaya demi bisa menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Ia bahkan telah berkeliling ke sejumlah toko elektronik di Kota Majene untuk mencari perangkat tambahan atau solusi teknis, namun hasilnya nihil.

​”Intinya kami hanya bisa gigit jari. Nampaknya Piala Dunia kali ini hanya bisa kami dengar skor akhirnya saja melalui media sosial atau berita, tanpa bisa menonton pertandingannya secara langsung,” ungkap Askan dengan nada kecewa.

​Janji Siaran Gratis Jadi Isapan Jempol Akibat Blank Spot

​Ketidaktersediaan jaringan TVRI di Kabupaten Majene memicu kritik tajam terhadap komitmen pemerintah dalam memberikan akses hiburan yang merata. Kebijakan menunjuk TVRI sebagai broadcaster dengan semangat “siaran gratis untuk rakyat” dinilai tidak matang dan tidak mempertimbangkan kondisi geografis serta kesiapan infrastruktur di daerah.

​Kabupaten Majene saat ini mengalami kondisi blank spot khusus untuk kanal TVRI digital. Tanpa adanya pemancar (tower transmisi) lokal, masyarakat tidak akan pernah bisa menangkap sinyal TVRI, baik menggunakan antena biasa maupun dekoder TV digital (STB).

​Masyarakat berharap pihak manajemen LPP TVRI Pusat bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tidak menutup mata terhadap persoalan ini.

​”Seharusnya pemerintah memfasilitasi masyarakat yang berada di luar jangkauan atau jauh dari tower transmisi TVRI, seperti di Kabupaten Majene ini. Jangan sampai hak masyarakat daerah untuk menikmati fasilitas publik terabaikan,” tandas warga setempat.

​Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Majene masih berharap ada solusi cepat dari pihak TVRI, entah itu berupa optimalisasi pancaran sinyal dari daerah tetangga atau penyediaan pemancar bantuan (relay) portabel selama ajang Piala Dunia 2026 berlangsung.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *