Rapor Merah Manajemen Puskesmas Sendana I: Dana Mengendap di Bank, Pelayanan Medis Ikut Lumpuh

MAJENE – Bobroknya tata kelola keuangan di internal Puskesmas Sendana I kini terang-terangan memicu gejolak. Sejumlah Tenaga Kesehatan (Nakes) menjerit lantaran hak mereka, berupa dana kapitasi dan non-kapitasi, tak kunjung dibayarkan. Ironisnya, tersendatnya hak para nakes ini diduga kuat bukan karena kekosongan kas negara, melainkan akibat kelalaian dan lambatnya manajemen puskesmas dalam melakukan penarikan anggaran.

​Kondisi ini tidak hanya memicu keresahan dan mencederai kesejahteraan para medis, tetapi kini telah berdampak sistemik pada penurunan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

​Berdasarkan investigasi dan informasi yang dihimpun, keterlambatan pembayaran ini ditengarai karena dana tersebut dibiarkan mengendap di Bank Pembangunan Daerah (BPD) tanpa ada upaya penarikan segera dari pihak manajemen puskesmas.

​Hal ini diperkuat oleh pengakuan salah satu pegawai yang mencoba menelusuri mandiri ke pihak perbankan. Fakta mengejutkan pun terungkap: pihak bank sama sekali tidak memiliki regulasi yang menghambat proses pencairan.

​“Pihak Bank menyampaikan tidak ada aturan yang menghambat penarikan. Justru mereka membeberkan bahwa keterlambatan ini murni karena pihak puskesmas yang lambat dan mengulur-ulur waktu penarikan,” ungkap sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan, Jumat (15/5/2026).

​Gerah dengan inkonsistensi pimpinan, sejumlah dokter dan perawat akhirnya mengambil langkah nekat dengan mendatangi langsung Bupati Majene. Mereka menuntut Pemerintah Daerah (Pemda) segera turun tangan mengevaluasi total manajemen Puskesmas Sendana I yang dinilai gagal total.

​Dalam aduannya kepada Bupati, para nakes menegaskan bahwa carut-marut ini bukanlah barang baru, melainkan “penyakit menahun” yang terus berulang dan secara perlahan mengikis mosi percaya bawahan terhadap kepala puskesmas (Kapus).

​“Ini bukan kejadian pertama. Sudah berulang kali terjadi dan sangat memukul semangat kerja pegawai. Kami sudah kehilangan kepercayaan terhadap cara Kapus mengelola manajemen di sini,” cetus sumber internal lainnya dengan nada kecewa.

​Dampak dari ego sektoral dan buruknya tata kelola keuangan ini terbukti fatal. Operasional pelayanan dasar puskesmas mulai pincang. Salah seorang perawat membeberkan fakta miris bahwa Puskesmas Sendana I sempat mengalami krisis ketersediaan stok obat akibat menanti kepastian pencairan dana tersebut.

​Sengkarut pengelolaan dana kapitasi di sejumlah Puskesmas di Majene memang kerap menjadi sorotan tajam publik. Di tengah gencarnya isu efisiensi anggaran, manajemen puskesmas justru dinilai berjalan tanpa arah dan minus transparansi.

​Hingga berita ini diturunkan, Kepala Puskesmas Sendana I memilih bungkam. Upaya konfirmasi dan klarifikasi yang dilayangkan tim redaksi melalui pesan singkat WhatsApp terkait mandeknya hak pegawai tersebut sama sekali tidak direspons.

Redaksi masih berusaha melakukan konfirmasi dengan kepala Dinas Kesehatan kabupaten Majene terkait  persoalan di Puskesmas Sendana I.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *