Layanan Vital Lumpuh Total: Warga Rangas Menjerit, Manajemen PDAM Majene Pilih Libur Ketimbang Perbaiki Pipa Bocor!

MAJENE – Pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Majene kembali menuai sorotan tajam dari masyarakat. Ribuan warga di Kelurahan Rangas, Kecamatan Banggae, terpaksa gigit jari dan menahan geram setelah pasokan air bersih ke rumah mereka terputus total selama dua hari terakhir.

​Ironisnya, mandeknya aliran air ini disebabkan oleh kerusakan pipa di Bendungan Mangge yang sengaja dibiarkan telantar oleh pihak PDAM dengan alasan klasik: kantor sedang libur.

​Keluhan ini disuarakan dengan nada tinggi oleh Dardi, salah seorang warga Kelurahan Rangas. Kepada media, ia mengaku sangat kecewa lantaran haknya sebagai pelanggan yang taat membayar iuran bulanan justru dibalas dengan pelayanan yang jauh dari kata profesional.

​”Sudah dua hari ini air sama sekali tidak mengalir ke kilometer kami. Yang bikin makin kecewa, tidak ada informasi atau kabar sedikit pun dari pihak PDAM kapan air ini bisa mengalir kembali,” ungkap Dardi dengan nada kesal.

Fasilitas Umum Rusak, Petugas Malah Asyik Libur

​Setelah ditelusuri, mandeknya distribusi air ini ternyata bersumber dari pecahnya salah satu pipa utama PDAM di kawasan Bendungan Mangge. Dampaknya tak main-main, pasokan air ke seluruh wilayah Kecamatan Banggae, termasuk Kelurahan Rangas, langsung lumpuh total.

​Namun, yang memicu gelombang amarah warga adalah sikap abai dari manajemen PDAM Majene. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga di sekitar kantor PDAM, tidak ada satu pun petugas yang turun ke lapangan atau bersiap di kantor karena bertepatan dengan hari libur.

​”Ini sangat miris! Kok pelayanan vital masyarakat seperti air bersih bisa-bisanya ikutan libur total? Air ini kebutuhan pokok, kami butuh setiap hari untuk mandi, mencuci, dan memasak. Apakah wajar kami dipaksa menunggu libur kantoran selesai baru bisa dapat air lagi?” cecar Dardi.

Warga Tuntut Bupati Majene Evaluasi Total Manajemen PDAM

​Dardi juga menyentil standar ganda yang diterapkan oleh PDAM Majene. Ia menilai pihak PDAM sangat agresif jika menyangkut hak mereka—seperti menagih bayaran—namun melempem dan tidak bertanggung jawab dalam memenuhi kewajibannya kepada pelanggan.

​”Ingat, Pak, kami ini pelanggan yang tiap bulan bayar meteran air tepat waktu. Kalau kami telat bayar, kami diancam akan diputus langganannya. Pertanyaan saya, apakah ada kata ‘libur’ juga kalau kami telat bayar tagihan? Kenapa giliran pelayanan rusak, kalian malah libur?” tambahnya menyindir keras.

Melihat bobroknya respons cepat tanggap dari perusahaan pelat merah tersebut, warga mendesak Bupati Majene untuk segera turun tangan. Manajemen PDAM Majene dinilai gagal total dalam memberikan pelayanan prima dan terkesan menutup mata dari penderitaan rakyat kecil yang krisis air bersih.

​Warga berharap ada sanksi tegas dan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran direksi dan manajemen PDAM Majene agar bobroknya sistem pelayanan berbasis “libur kantoran” ini tidak kembali terulang di masa mendatang.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *