MAJENE,TERASSULBAR.ID – Sebanyak 120 siswa SMA Negeri 2 Majene dikabarkan gagal menjadi peserta yang eligible untuk jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) akibat kendala teknis dalam penginputan data. Kejadian ini memicu kekecewaan besar di kalangan siswa dan orang tua, yang mempertanyakan kelalaian pihak sekolah dalam menangani proses administrasi.
Diketahui sebelumnya, para siswa telah menjalani wawancara terkait rencana mereka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur SNBP atau jalur prestasi lainnya. Mereka diberitahu bahwa mereka bebas memilih fakultas berbasis SNBP. Namun, sejak awal Januari 2025, terjadi gangguan server yang menyebabkan nilai-nilai siswa tidak bisa terkirim ke pusat.
Menurut informasi, nilai semester 1 sudah sempat dikirim, tetapi belum ditinjau oleh pihak pusat. Sekolah diberikan dua kali kesempatan untuk menginput PDDS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa), yakni pada 2 Februari dan 4 Februari 2025. Namun, kedua kesempatan tersebut gagal dimanfaatkan karena masih terjadi gangguan jaringan di sekolah. Hal ini semakin memperburuk keadaan, mengingat pihak panitia sekolah diduga tidak memberi tahu siswa bahwa PDDS mereka belum terdaftar.
Kekecewaan pun semakin memuncak setelah sejumlah siswa secara mandiri mencari tahu mengenai status mereka. Hal ini memicu pertanyaan besar dari siswa dan orang tua, apakah SMA Negeri 2 Majene masih layak disebut sebagai sekolah unggulan? Pasalnya, kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di sekolah tersebut.
Orang Tua Siswa Nyaris Gelar Aksi Demo
Akibat kegagalan ini, para siswa dan orang tua merasa sangat dirugikan. Sebagian besar orang tua bahkan berencana untuk menggelar aksi protes di sekolah. Namun, pihak SMA Negeri 2 Majene segera mengambil langkah cepat dengan mengadakan rapat darurat pada Selasa pagi, pukul 09.00 WITA, bertempat di ruang laboratorium sekolah.
Dalam rapat tersebut, orang tua siswa mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap sekolah. Mereka menilai bahwa alasan gangguan jaringan tidak masuk akal, karena seharusnya pihak sekolah sudah mengantisipasi kendala teknis semacam ini.
“Tidak masuk akal kalau masalah jaringan, karena pihak sekolah pasti antisipasi hal itu ” Keluh salah seorang orang tua siswa yang enggan disebut namanya.
Selain itu, pihak sekolah sebelumnya berjanji akan memberikan bimbingan belajar (bimbel) bagi siswa yang gagal SNBP. Namun, bimbel tersebut hanya dilakukan di sekolah dengan guru-guru dari sekolah itu sendiri, sehingga dinilai kurang efektif. Di sisi lain, siswa berharap setidaknya beban tugas sekolah dapat dikurangi sebagai kompensasi atas kegagalan ini.
Kasus ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai tanggung jawab panitia PDDS, serta langkah apa yang akan diambil oleh pihak sekolah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak sekolah terkait solusi konkret atas permasalahan ini.
(Tim Redaksi)






