Majene,terassulbar.id-Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) mendesak Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Majene segera melakukan perbaikan terhadap Sekolah Dasar Negeri (SDN) 16 Tanisi yang terletak di Desa Mekkatta Selatan, Kecamatan Malunda Sulawesi Barat. Sekolah tersebut hingga kini masih mengalami kerusakan serius akibat gempa bumi Sulawesi Barat tahun 2021, Rabu (3/12/2025).
Aksi desakan itu disampaikan usai PK IMM melakukan kunjungan lapangan untuk melihat langsung kondisi bangunan sekolah. Sejumlah ruang kelas dilaporkan mengalami retakan parah, konstruksi atap melemah, dan beberapa fasilitas penunjang proses belajar mengajar sudah tidak layak digunakan. Sampai saat ini, sebagian siswa masih menjalani kegiatan belajar dengan fasilitas seadanya.
Kordinator Lapangan PK IMM Fahrim mengatakan Pendidikan tidak boleh menunggu terlalu lama dan kondisi SDN 16 Tanisi sangat memprihatinkan dan tidak layak menjadi tempat belajar bagi siswa.
“Kami melihat langsung bahwa bangunan sekolah mengalami kerusakan yang cukup berat dan belum mendapat penanganan yang memadai sejak gempa 2021, Siswa-siswa kita terpaksa belajar di ruang yang tidak aman.Pendidikan tidak boleh menunggu terlalu lama, apalagi menyangkut keselamatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, sebagai kelompok mahasiswa yang memiliki komitmen terhadap isu pendidikan dan kemanusiaan, PK IMM merasa perlu menyuarakan persoalan yang telah lama diabaikan.
“Sudah hampir empat tahun sejak gempa melanda, tetapi kondisi sekolah masih seperti ini. Kami meminta Disdikpora Majene tidak menunda lagi perbaikan.
Masyarakat Mekkatta Selatan berhak mendapatkan layanan pendidikan yang layak.”
PK IMM Minta Pemerintah Daerah Hadir Secara Nyata
Selain mendesak Disdikpora Majene, PK IMM juga meminta Pemerintah Kabupaten Majene memberikan perhatian lebih besar terhadap pemulihan sarana pendidikan di wilayah Malunda yang menjadi salah satu daerah terdampak terparah dalam bencana 2021,”tambahnya.
Menurut mereka, perbaikan sekolah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pemulihan kehidupan sosial masyarakat pascabencana.
“Kami berharap pemerintah hadir secara nyata, bukan hanya dalam bentuk janji. Sekolah yang rusak harus segera diperbaiki agar anak-anak dapat belajar dengan aman dan nyaman,” ucal koordinator PK IMM.
Menanggapi desakan mahasiswa, Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Majene, Misbahuddin, menyampaikan bahwa perbaikan SDN 16 Tanisi telah masuk dalam daftar prioritas program pembangunan pendidikan.
Misbahuddin mengakui bahwa kerusakan sekolah tersebut memang membutuhkan penanganan, namun keterbatasan anggaran membuat pihaknya harus menyusun skala prioritas.
“Kami sudah melakukan pendataan terhadap seluruh sekolah terdampak gempa. SDN 16 Tanisi termasuk yang mengalami kerusakan kategori sedang hingga berat. Kami pastikan sekolah ini menjadi prioritas perbaikan pada tahun 2026,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa proses perencanaan pembangunan infrastruktur pendidikan harus melalui beberapa tahapan mulai dari penganggaran, perencanaan teknis, hingga pelaksanaan proyek. Karenanya, tidak semua sekolah dapat diperbaiki secara bersamaan.
“Kami sangat memahami aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Kami tidak tinggal diam. Hanya saja, semua perbaikan harus mengikuti mekanisme penganggaran pemerintah daerah,” tambahnya.
Warga Mekkatta Selatan Berharap Percepatan
Sementara itu, sejumlah warga Mekkatta Selatan berharap agar perbaikan SDN 16 Tanisi dapat dilakukan lebih cepat dari rencana 2026. Mereka khawatir kondisi bangunan yang semakin rapuh dapat membahayakan keselamatan siswa dan guru, terutama saat musim hujan dan angin kencang.
Beberapa orang tua murid mengaku telah lama berharap adanya perbaikan, namun hingga kini belum ada perubahan signifikan.
Desakan PK IMM kepada Disdikpora Majene mencerminkan perhatian mahasiswa terhadap kondisi pendidikan pascabencana yang belum pulih sepenuhnya.(*)






