MAJENE — Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Mekkatta Selatan, Muh. Ayyub, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan mengenai dugaan adanya kotoran cicak pada salah satu ompreng makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 38 Pao-Pao.
Ayyub menjelaskan, kejadian tersebut bermula pada Rabu, 16 September 2026, ketika salah seorang penanggung jawab sekolah menghubungi pihak SPPG melalui grup koordinasi. Dalam komunikasi tersebut, pihak sekolah melaporkan adanya salah satu ompreng yang ditemukan dalam kondisi terdapat kotoran cicak.
Menurut Ayyub, laporan tersebut langsung ditindaklanjuti oleh pihak SPPG sesuai dengan prosedur penanganan yang berlaku. Pihaknya menyampaikan permintaan maaf kepada sekolah dan pada saat itu juga mengganti ompreng yang dilaporkan bermasalah.
Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut, pihak SPPG menyebut temuan tersebut tidak berada pada ompreng yang dibagikan ke siswa maupun guru. Dari total 111 ompreng yang diantar ke sekolah dan kemudian dibagikan ke seluruh kelas serta ruang guru, menurut Ayyub, seluruhnya berada dalam kondisi baik.
Hanya saja karena ada beberapa yang dititip di Kantin Sekolah, maka kemungkinan ompreng tersebut terkontaminasi dengan kotoran cicak saat berada di kantin.
“Setelah kami telusuri, dari 111 ompreng yang kami antar ke sekolah dan dibagikan kepada 98 siswa serta 13 tenaga pendidik, tidak ada satu pun yang bermasalah. Semuanya dalam kondisi baik,” ujar Ayyub, Jumat (18/9/2026).
Ayyub mengatakan, satu ompreng yang ditemukan terdapat kotoran cicak justru berada di area kantin sekolah. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi alasan pihak SPPG mempertanyakan informasi yang kemudian berkembang dalam pemberitaan.
“Makanya kami juga heran ada ompreng di kantin sekolah, harusnya ompreng hanya berada di kelas. Jadi kami pastikan ada kekeliruan pemberitaan yang menyudutkan SPPG kami,” ucapnya.
Ia juga meluruskan informasi mengenai jenis makanan yang disebut dalam pemberitaan sebelumnya. Menurut Ayyub, makanan yang diduga terkena kotoran cicak itu terdapat pada ompreng tersebut bukan ayam goreng sebagaimana disebutkan, melainkan tahu goreng.
“Bukan ayam goreng, tetapi tahu goreng. Dan ompreng tersebut juga tidak sempat dimakan oleh siswa, karena kami langsung ganti. Jadi ini sebenarnya persoalan kecil yang dibesar-besarkan,” jelasnya.
Ayyub menegaskan, pihaknya tetap menjadikan laporan dari sekolah sebagai bahan evaluasi. Menurut dia, setiap informasi terkait kualitas makanan dalam pelaksanaan program MBG harus segera ditindaklanjuti untuk memastikan keamanan dan kenyamanan penerima manfaat.
Ia menyebut persoalan tersebut telah dimaklumi oleh pihak SDN 38 Pao-Pao setelah dilakukan penjelasan dan penelusuran. Karena itu, Ayyub berharap pelaksanaan program MBG di sekolah tersebut dapat kembali berjalan secara normal.
“Kami berharap persoalan ini sudah selesai dan program MBG di SDN 38 Pao-Pao bisa kembali dilanjutkan. Kami juga terus melakukan evaluasi agar pelayanan dan kualitas makanan tetap terjaga,” katanya.
Sementara itu, seorang siswa SDN 38 Pao-Pao berharap program MBG tetap dilanjutkan di sekolahnya. Ia mengaku senang mendapatkan makanan melalui program tersebut.
“Enak makanya, Pak. Kami senang ada MBG di sekolah ini,” ucapnya.







