MAMUJU– Perjalanan pendidikan Amirullah Bandu menjadi kisah tentang keberanian bermimpi, ketekunan, dan keyakinan bahwa seseorang dapat tumbuh dari tempat sederhana menuju ruang akademik yang lebih tinggi.
Putra asal Desa Tommo, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju tersebut dinyatakan lulus Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP) Gelombang I Tahun Akademik 2026/2027 pada Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Kelulusan itu tertuang dalam Surat Keterangan Direktur Akademik Universitas Padjadjaran Nomor 12828/UN6.1.1/TM.00.07/2026 yang diterbitkan di Jatinangor pada 9 Juli 2026.
Bagi Amirullah, pencapaian tersebut bukan sekadar keberhasilan pribadi. Kelulusannya menjadi bukti bahwa latar belakang daerah tidak seharusnya membatasi seseorang untuk memiliki cita-cita besar.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas kesempatan ini. Saya berasal dari Desa Tommo dan tumbuh dengan berbagai keterbatasan. Namun, saya percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan belajar,” ujar Amir (1/8/2026).
Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan doktoral merupakan amanah yang harus dijalani dengan kesungguhan. Pendidikan tersebut bukan hanya diarahkan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
“Saya ingin perjalanan ini menjadi pesan bagi anak-anak muda di desa bahwa kita boleh lahir dan tumbuh jauh dari pusat pendidikan, tetapi cita-cita kita tidak boleh dibatasi oleh keadaan. Selama ada kemauan, kerja keras, doa, dan dukungan keluarga, jalan itu selalu terbuka,” katanya.
Melalui pendidikan Doktor Ilmu Komunikasi, Amir berharap dapat mengembangkan kajian yang berhubungan dengan komunikasi kebijakan publik dan komunikasi kebencanaan. Ia juga berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi generasi muda di Mamuju, serta berbagai pelosok di Sulawesi Barat untuk tetap percaya pada kekuatan pendidikan.
“Jangan pernah merasa kecil hanya karena berasal dari desa. Pendidikan dapat membawa kita melihat dunia yang lebih luas, tetapi pada akhirnya ilmu itu harus kembali dan memberi manfaat kepada tempat kita berasal,” tuturnya.
Kelulusan Amirullah menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pendidikan tinggi tidak selalu dimulai dari fasilitas yang lengkap. Terkadang, perjalanan itu justru berawal dari sebuah desa, dari keberanian menyimpan harapan, lalu diperjuangkan melalui kerja keras yang panjang.






