Laporan Khusus dari Majene, Sulawesi Barat
Oleh: Reski Mutmainah
Salumaratte
Majene,terassulbar.id-Di kaki pegunungan Quarles, sekitar 120 kilometer dari pusat Kabupaten Majene, terdapat sebuah dusun bernama Salumaratte. Wilayah ini terletak di Desa Popenga, perbatasan Kabupaten Majene dengan Mamasa. Tidak ada jalan beraspal, sinyal telekomunikasi pun nyaris tak menjangkau. Namun di tempat terpencil itu, semangat pendidikan tetap menyala—dinyalakan oleh seorang guru honorer bernama Nasrawiah.
Ibu dari empat anak ini mendirikan kelas jauh SDN 15 Ulumanda dengan fasilitas yang sangat terbatas. Bersama rekannya, Samsuddin, ia membuka akses pendidikan untuk anak-anak dusun yang sebelumnya harus berjalan kaki 5 kilometer ke sekolah induk. Kini, 18 siswa belajar di teras rumah warga, berlantaikan tanah merah, beratap seng, berdinding alam. Meja dan kursi didapat dari barang bekas. Satu papan tulis menjadi pusat segala perhatian.

“Kami hanya ingin anak-anak ini tidak berhenti sekolah karena jarak. Mereka juga punya hak untuk belajar, seperti anak-anak lain di Indonesia,” kata Nasrawiah, dalam perbincangan dengan Tempo/Kompas (nama media), di sela-sela mengajar, Sabtu (28/9).
Kelas dari Gotong Royong
Bangunan itu tidak pernah tersentuh dana BOS. Tidak ada alokasi dari dinas pendidikan daerah. Semua berdiri berkat gotong royong warga. Kayu-kayu bekas bangunan lama SDN 15 Ulumanda dibawa naik gunung, lalu dirakit seadanya. Saat hujan deras, air masuk dari sisi bangunan. Ketika angin bertiup kencang, kelas seolah berada di alam terbuka.
“Kadang kami tutup pelajaran lebih cepat kalau hujan deras. Anak-anak kedinginan dan buku-buku basah,” tutur Samsuddin, guru yang menggagas kelas tersebut.
Namun baik Nasrawiah maupun Samsuddin tidak menyerah. Mereka percaya, pendidikan adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai keterpencilan. Mereka mendidik anak-anak Salumaratte bukan untuk menjadi hebat di kota, tapi agar bisa membangun dusunnya sendiri suatu hari nanti.
Tak Bergaji, Tak Menyerah
Nasrawiah adalah sarjana pendidikan dari salah satu perguruan tinggi di Sulawesi. Namun hingga kini, statusnya masih honorer tanpa penghasilan tetap. Tak ada tunjangan daerah tertinggal, tak ada fasilitas dari pemerintah.
“Yang penting mereka bisa baca, bisa tulis, bisa hitung. Itu saja dulu,” ucapnya dengan suara lirih.
Ia mengaku pernah mengajukan permintaan bantuan ke Dinas Pendidikan Kabupaten Majene. Namun hingga kini belum ada respons berarti. Kini, ia menaruh harapan pada Presiden Prabowo Subianto.
“Bapak Presiden, jika Bapak membaca ini, mohon lihat kami di sini. Kami bukan minta gedung tinggi, tapi ruang belajar yang layak saja. Kasihan anak-anak ini.”
Mengetuk Hati Nurani Bangsa
Kisah Nasrawiah hanyalah satu dari ratusan cerita serupa yang terjadi di pelosok Indonesia. Ketika negara membicarakan kurikulum baru, digitalisasi, dan pendidikan 5.0, di sisi lain masih ada anak-anak yang belajar di atas tanah tanpa listrik dan sinyal.
Pendidikan di Salumaratte adalah potret paling jujur tentang ketimpangan. Bahwa pembangunan belum menjangkau semua. Bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk menyentuh anak-anak yang lahir jauh dari ibu kota.
Mereka Tidak Menuntut, Hanya Meminta Diperhatikan
Warga Salumaratte tak pernah meminta gedung mewah. Yang mereka butuhkan adalah ruang kelas sederhana, jalan setapak yang bisa dilalui saat hujan, dan pengakuan negara bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia.
“Satu papan tulis, satu meja, satu guru yang sabar—itu cukup untuk kami memulai,” kata Nasrawiah. “Tapi tolong jangan biarkan kami sendiri terlalu lama.”
Kini, suara mereka sudah terangkat. Tinggal menunggu: apakah negara akan hadir? Apakah Istana akan mendengar?.






