
Gaza City/Tel Aviv, – Israel dan Hamas telah menyepakati gencatan senjata setelah berminggu-minggu konflik yang menyebabkan ratusan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di wilayah Gaza dan Israel. Kesepakatan ini dicapai dengan mediasi internasional yang melibatkan Mesir, Qatar, dan PBB.
Gencatan senjata, yang mulai berlaku pada pukul 00.00 waktu setempat, bertujuan untuk menghentikan serangan udara, tembakan roket, dan operasi militer lainnya. Kedua pihak menyatakan komitmen awal untuk mengurangi ketegangan dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa kesepakatan ini mencakup pengiriman bantuan medis dan pembukaan kembali jalur perbatasan untuk kebutuhan dasar warga Gaza. “Kami mengutamakan kepentingan rakyat Palestina yang telah menderita akibat blokade dan serangan brutal,” ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa Israel tetap berkomitmen menjaga keamanan warganya. “Kami tidak akan mentoleransi serangan terhadap rakyat Israel. Gencatan senjata ini adalah langkah awal untuk menciptakan stabilitas,” katanya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik langkah ini, mengingat situasi kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik kritis. Menurut laporan terakhir, lebih dari 2.000 orang terluka dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa gencatan senjata ini hanya solusi sementara jika tidak diikuti oleh dialog yang lebih mendalam untuk mencapai perdamaian jangka panjang. Wilayah tersebut telah menjadi saksi ketegangan selama puluhan tahun, dan upaya untuk menemukan resolusi damai yang berkelanjutan terus menghadapi berbagai tantangan politik dan ideologis.
Dengan gencatan senjata ini, diharapkan masyarakat internasional dapat mendorong langkah-langkah lebih lanjut menuju perdamaian abadi di kawasan tersebut.(*)



